INFO SEKOLAH HUBUNGI

0812-1581-153

Jalan Al Ikhlas RT 02/X Desa Kembangan Kec. Bukateja Kab. Purbalingga - 53382

BERITA

HAKIKAT BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA PERSATUAN

HAKIKAT BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA PERSATUAN

Oleh: Nasrudin (XII Agama 2)

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk. Budaya, suku bangsa, bahasa daerah, agama, serta adat istiadat yang ada di Indonesia amatlah beragam. Kekayaan dan keberagaman bangsa Indonesia itu meliputi jumlah penduduk yang saat ini mencapai ± 240 juta jiwa, 700 bahasa daerah, 1128 suku bangsa, 6 agama, serta beragam budaya, adat istiadat, dan flora fauna yang beraneka ragam (Bahan Tayang Materi Sosialisasi Empat Pilar MPR RI pada tahun 2015).

Kekayaan dan keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia tersebut patut untuk kita banggakan. Apalagi kesuksesan bangsa Indonesia yang mampu hidup rukun serta berdampingan di tengah-tengah keberagaman dan kemajemukan bangsa. Hal tersebut sangat patut untuk diapresiasi. Akan tetapi, akankah kerukunan dan persatuan bangsa Indonesia itu akan terus terjaga? Tentunya akan ada banyak tantangan yang semakin kompleks yang siap merongrong dan menghancurkan jalinan persatuan bangsa Indonesia.

Telah banyak kasus perpecahan dan pertikaian antar etnis yang terjadi di Indonesia, seperti tragedi Sampit, perang Poso, perang antar suku di kawasan timur seperti NTT, Maluku, dan Papua, serta masih banyak kasus-kasus lainnya. Permasalahan-permasalahan mengenai perpecahan dan pertikaian antar etnis tersebut telah banyak menguras tenaga dan pikiran baik untuk pihak sipil  maupun militer. Berbagai upaya pun terus dilakukan pemerintah untuk kembali memupuk rasa nasionalisme dan persatuan masyarakat Indonesia. Seperti seminar-seminar kebangsaan, peringatan sumpah pemuda, hari kebangkitan nasional, upacara bendera, dan lain sebagainya.

Cerminan keberagaman bangsa Indonesia tersebut, ada satu hal yang menarik untuk ditelaah lebih jauh. Hal tersebut adalah bahasa daerah. Ya,bahasa daerah menjadi salah satu kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia. Seperti ulasan sebelumnya, bangsa Indonesia memilki setidaknya sekitar 700 bahasa daerah yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Bila dilihat sekilas, akan sulit dipercaya jika ada negara yang dapat tegak kokoh berdiri di atas masyarakat yang memiliki ratusan bahasa daerah padahal hanya diikat oleh satu bahasa resmi, satu bahasa nasional, satu bahasa persatuan, yakni bahasa Indonesia.

Terekam dalam sejarah, kesadaran akan pentingnya persatuan dan kesatuan menjadi  modal penting untuk terus semangat mengusir penjajah dari tanah air. Semangat tersebut membuat para pemuda bangsa dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul di Jakarta untuk kemudian berikrar bersama. Meskipun mereka berasal dari daerah yang berbeda-beda dan latar belakang yang juga berbeda-beda, tetapi sejatinya mereka mempunyai tujuan yang sama. Mereka menyatakan bahwa mereka adalah satu, satu Indonesia. Dan salah satu hal yang mereka ikrarkan adalah bahasa. Mereka berikrar untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita peringati sebagai hari sumpah pemuda.

Betapa besar jiwa para pemuda Indonesia waktu itu. Mereka yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari perkumpulan pemuda Jawa (Jong Java), Sumatera (Jong Sumatranen Bond), Sulawesi (Jong Celebhes), dan perwakilan-perwakilan pemuda dari setiap suku bangsa yang ada di Indonesia. Mereka rela untuk membuang ego masing-masing dan lebih mengedepankan kepentingan bersama dengan berani berikrar bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Padahal mereka telah akrab dan tak bisa dipisahkan dengan adat dan bahasa daerahnya masing-masing.

Tidak ada harapan apa-apa yang diinginkan oleh para pemuda bangsa waktu itu selain berharap dengan adanya persatuan, kaum penjajah segera lari dari Indonesia dan bangsa Indonesia segera merdeka. Dan nampaknya usaha mereka tidak sia-sia. Karena mulai saat itu, nasionalisme terus menyebar ke pelosok negeri. Pemuda-pemuda dan tokoh-tokoh pendiri bangsa Indonesia semakin berapi-api dan pada akhirnya Indonesia berhasil meraih kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Kemerdekaan mungkin akan sulit diraih bangsa Indonesia jia perlawanan bangsa Indonesia masih bersifat keaderahan. Belum secara menyeluruh lewat nasionalisme dan persatuan yang diserukan oleh para pemuda bangsa pada peristiwa sumpah pemuda. Oleh karena itu, hakikat dari poin-poin yang disuarakan oleh para pemuda harus benar-benar diterapkan dan diamalkan oleh segenap elemen bangsa guna menjaga keutuhan dan kedaulatan bangsa Indonesia.

Keefektifan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan menjadi modal penting untuk mempersatukan generasi muda bangsa. karena dari masa ke masa pemuda selalu menjadi ujung tombak utama penentu keberhasilan dan kemunduran suatu negara. Masalah-masalah urgent mengenai kenakalan remaja yang terjadi di Indonesia saat ini kiranya dapat diatasi lewat penghayatan sepenuh hati bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang satu. Dan salah satu penghayatan yang kiranya perlu ditanamkan dalam diri para pemuda adalah penghayatan mengenai hakikat bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Kiranya tidak ada bedanya antara pemuda zaman sekarang dengan pemuda masa lalu. Apabila bahasa Indonesia benar-benar dihayati maknanya sebagai bahasa persatuan, maka generasi muda bangsa Indonesia akan benar-benar bersatu untuk mewujudkan cita-cita luhur para pendiri bangsa Indonesia. Terutama cita-cita agara senantiasa menjaga dan mengisi kemerdekaan dengan hal-hal membangun dan bermanfaat.

KOMENTAR

BERITA LAINNYA Indeks